Kamis, 18 Oktober 2012

Mitos Pernikahan Antar Desa Di Ngantang

Oleh Wong Ngantang - Kamis, Oktober 18, 2012 | 1 comment

Ngantang yang lebih di kenal dengan Waduk Selorejo – nya ternyata memiliki beberapa mitos yang beredar di masyarakatnya. Salah satunya adalah mitos 3 desa. Dari ke 13 desa yang ada di Ngantang ada 3 desa yang memiliki mitos yang sampai sekarang masih beredar.

Sebut saja Desa Kaumrejo, Desa Sumberagung dan Desa Tulungrejo. Ketiga desa ini bisa di bilang titik fokusnya warga Ngantang, karena letak Kantor Camat, PLN, Kantor Pos, Kantor Polisi dan Pasar Ngantang berada di Desa Kaumrejo, Lapangan resmi Karaeng Galesong Ngantang, Taman Makam Pahlawan Moestadjab Ngantang dan SMP Negeri 01 Ngantang berada di Sumberagung, sedangkan Tulungrejo adalah desa terdekat yang berbatasan langsung dengan ke dua desa penting di Ngantang itu tanpa melalui hamparan sawah yang luas karena cuma berbatasan dengan +100m perkebunan kopi.

Mitos ketiga desa ini adalah tidak boleh menikahkan anak cucunya dari antar desa karena akan terjadi musibah. Misalnya, cewek Kaumrejo menikah dengan cowok Sumberagung atau sebaliknya termasuk dengan orang Tulungrejo. Kata orang tua itu namanya “nyabrang segoro getih” atau bahasa Indonesia – nya “Menyeberangi Lautan Darah”. Mendengar kalimat itu tentu saja membuat bulu kuduk berdiri. Terdengar sangat sakral dan mencekam.

Ada api pasti ada asap, ada mitos itu tentu saja ada sejarahnya. Untuk menelusuri tentang mitos itu tentu saja bukan perkara mudah, karena mayoritas penduduk lokal dahulu tidak mau membahas detail asal usul mitos tersebut. Jadi, menurut “orang tua”, dahulunya ketiga desa ini di huni oleh satu keluarga. Saudara tertua tinggal di Desa Tulungrejo, kemudian adiknya tinggal di Desa Kaumrejo dan yang terakhir tinggal di Sumberagung. Karena Islam sudah lama sekali masuk wilayah Ngantang, sudah jelas bahwa tidak boleh menikahkan anak cucunya jika masih terikat tali persaudaraan. Ada juga yang mengatakan karena ketiga saudara itu telah terikat suatu perjanjian. Perjanjian dengan siapa dan isi dari perjanjian itu tidak ada yang tahu kebenarannya.

Kisah historis ini juga belum sepenuhnya benar karena belum ada bukti nyata untuk membuktikan kebenarannya. Tapi dari sedikitnya nara sumber tentang asal usul mitos ini membuat mitos ini bisa di bilang masih teka – teki. Ada beberapa kasus tentang kisah dua sejoli yang tidak jadi menikah karena mitos 3 desa ini, tetapi sekarang banyak yang tetap menikahkan anaknya meskipun dengan ritual khusus. Hanya sedikit masyarakat yang menikahkan anaknya tanpa ritual khusus tersebut.

Faktanya, hasil dari pernikahan antar desa itu juga tidak sepenuhnya baik, tetapi juga tidak sepenuhnya buruk atau bisa di bilang sangat relatif. Darimana saja sudut pandangnya, mitos dan tradisi dari nenek moyang memang harus tetap dijaga kalaupun itu menguntungkan dan memberi nilai lebih dalam aplikasi kehidupan di jaman sekarang. Kalau mitos itu merugikan ? Tergantung pada kita semua bagaimana menyikapinya, khususnya untuk warga Desa Kaumrejo, Desa Sumberagung dan Desa Tulungrejo.

(Bayu Eswe)

Related Post



1 komentar:

  1. Sepertinya agak telat ya ..menemukan blog-e tanah kelahiran...Ngantang ..kota tercinta...
    Tapi ...two thumbs up for the bloggers and Ngantangers.....Saluuutttt....
    Posting yang banyak soal Ngantang....

    BalasHapus

Blogger Template by Clairvo