Kamis, 06 Desember 2012

Desa Kaumrejo

Oleh Wong Ngantang - Kamis, Desember 06, 2012 | 3 comments

Desa Kaumrejo adalah desa jantung Kecamatan Ngantang karena keberadaan Pasar Ngantang dan Kantor Kecamatan serta Perkantoran Pemerintah yang lain seperti PLN, Kantor Pos, Kantor Polisi, Puskesmas, PDAM, dan Koramil berada di dalam wilayah Desa Kaumrejo ini. Secara umum penggambaran Desa Kaumrejo sudah tidak asing lagi bagi keseluruhan warga Kecamatan Ngantang. Adapun sejarah mengapa Desa Kaumrejo bisa menjadi pusat kota di Kecamatan Ngantang. 

Nama Desa Kaumrejo diambil dari perpaduan dukuh Kauman dengan Selorejo yaitu Kaum dan Rejo kemudian ditempatkan di Dukuh Prabon. Dengan demikian pusat pemerintahan Desa Kaumrejo terletak di Dukuh Prabon sampai sekarang. Sedangkan wilayahnya dibagi menjadi lima pedukuhan yaitu Selorejo (Sondel), Kauman, Jatus(gading), Prabon I dan Prabon II. Karena padatnya penduduk Dusun Prabon menjadikannya harus di bagi menjadi 2 bagian. 




Tahun 1969 sungai Konto dibendung, akibatnya ladang sawah penduduk Kaumrejo banyak yang tenggelam. Salah satunya Dukuh Selorejo tenggelam karena air bendungan itu. Maka semua penduduk Selorejo pindah ke dukuh lain dan ke desa lain. Pemukiman baru untuk penduduk Selorejo yaitu Sondel yang sekarang menjadi dukuh Selokurung. Akhirnya nama Selorejo dijadikan nama bendungan itu dan PLTA. Menurut petugas PLTA aliran listrik dari Bendungan Selorejo dialirkan ke Jawa dan Bali.


Sebagian besar penduduk Kaumrejo itu merupakan pendatang dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan sebagian kecil Jawa timur. Pada saat itu mayoritas mata pencaharian penduduk adalah “Pangupo Jiwo” atau memetik kopi dari perkebunan milik asing di Sondel, sedangkan lainnya bercocok tanam.


Di wilayah Desa Kumrejo ini terdapat empat pendukuhan yang masing-masing pendukuhan di pimpin oleh seorang petinggi, dengan urut-urutan sebagai berikut :


1) Pendukuhan Selorejo (Selokurung/Sondel) Pada tahun 1873 s.d. tahun 1890 petingginya bernama Mbah Giso.


2) Pendukuhan Kauman


a. Tahun 1873 s.d. tahun 1890, petingginya bernama Mbah Kronojoyo (Kronodjojo).


b. Tahun 1890 s.d. tahun 1908 diganti oleh Mbah Bur (Boer).


c. Tahun 1908 s.d. tahun 1915 diganti Mbah H. Moestofa.


Dengan meninggalnya Mbah Giso tahun 1890, pendukuhan Selorejo (Sondel) digabungkan dengan pedukuhan Kauman, yang dipimpin oleh Mbah H.Moestofa.


3) Pedukuhan Jatus


a. Tahun 1873 s.d. tahun 1900, petingginya bernama Mbah Singo.


b. Tahun 1900 s.d. tahun 1915 diganti oleh Mbah Singosetro.


c. Tahun 1915 s.d. tahun 1924 diganti oleh Mbah Poncosetro (Pontjosetro).


4) Pendukuhan Keprabon


a. Tahun 1873, petingginya bernama Mbah Tir, kemudian meninggal dunia diganti oleh Mbah Pangger s.d. 1880.


b. Tahun 1880 s.d. tahun 1883 diganti oleh Mbah Temun (Temoen)


c. Tahun 1883 s.d. tahun 1900 diganti Mbah Amir.


d. Tahun 1900 s.d. tahun 1924 diganti Mbah Mat Mertowiryo.


Pada tahun 1924 petinggi-petinggi itu mengadakan musyawarah, yang pada waktu itu disebut dengan istilah “Begandring” dengan tujuan menyatukan ketiga pedukuhan tersebut menjadi satu. Dalam musyawarah itu terpilih sebagai petinggi adalah Mbah Mat Mertowiryo.


Tahun 1955 mbah Mat Mertowiryo meninggal dunia dan diganti oleh cariknya yaitu Bapak Hardjo Supeno. Kemudian meninggal dunia dan diganti lagi oleh Kamituwo yaitu Bapak Kastadji. Pada bulan April 1980 diadakan pemilihan kepala desa dan yang berhasil menduduki kursi Kepala Desa adalah Bapak Cucun Moch Toyib Tirto Raharjo. Lalu meninggal dunia diganti oleh Bapak Sukadi, kepala dusun Selokurung. Pada bulan November 1989 diadakan pemilihan Kepala Desa lagi dan yang berhasil menjabat adalah Bapak Gandi Riyoto atau Gandi Harjo Supeno.


Di desa Kaumrejo mempunyai tempat bersejarah, diantaranya :


1) Dusun Kauman :


a. Gedung gudang garam milik Belanda. Wilayah tersebut sudah dihancurkan dan ditempati rumah dinas mantri kehutanan dan gereja.


b. Makam Embah Segalor, terletak di belakang Masjid Jami’ Ngantang. Panggilan Embah Segalor mempunyai arti Segoro Lor (laut utara) berasal dari Sedayu Gresik. Nama aslinya Abdul Adzim bin Baidowi.


2) Dusun Prabon I ada Punden yang terletak sebelah barat Kantor Balai Desa Kaumrejo.


3) Dusun Selokurung. Menurut cerita masyarakat Selokurung dan diperkuat dibuku sejarah, ada pertapaan dan pertahanan terakhir Trunojoyo (pahlawan dari Madura dan bergabung dengan pasukan Ujung Pandang), waktu melawan Belanda tahun 1679. Di tempat ini, Trunojoyo beserta paengikutnya ditangkap karena bujukan Belanda dan pasukan Amangkurat II dari Mataram.


Selain tempat bersejarah, Kaumrejo juga mempunyai upacara adat dan kesenian, diantaranya :


1) Selamatan.


a. Selamatan Desa, biasa diadakan pada bulan Dzulhijah dan pada hari Selasa Kliwon. Empat dusun (Prabon II, Prabon I, Gading dan Kauman) diadakan bersama-sama. Sedangkan dusun Selokurung diadakan pada bulan Dzulhijah dan pada hari Jum’at Pon.


b. Barikan, biasa diadakan pada hari Jum’at Legi. Tidak ditentukan bulannya. Dalam setahun bisa 1,2 atau 3 kali. Bisa juga pada pergantian tahun Jawa atau kalau ada kejadian-kejadian khusus, misalnya wabah penyakit.


2) Kesenian yang ada :


a. Jaranan


b. Pegonan


c. Pencak


d. Hadrah


e. Samroh


f. Terbang jidor – biasa untuk meramaikan hajatan seperti khitanan / temanten.


Desa Kaumrejo menyimpan banyak sejarah baik yang berskala lokal ataupun yang berskala Nasional. Salah satu contoh sejarah yang berskala lokal adalah hubungan dengan desa tetangga yaitu Desa Sumberagung, Desa Tulungrejo dan Desa Waturejo. Konon katanya desa tertua di Ngantang adalah Desa Tulungrejo tetapi Kaumrejo sebelum terbentuk menjadi desa adalah pedukuhan paling besar dengan tetua yang begitu disegani masyarakat sekitar. Tidak heran jika sekarang jantung Kecamatan Ngantang terletak di Desa Kaumrejo. (Mar’atus Syakinah/Bayu Eswe-ngantang.com)


Foto : Rendra Hananta


Sumber Sejarah : Buku Sejarah Kaumrejo yang ditulis oleh Ibu Puyuh Sri Purwaningsih pada tahun 1992 dari narasumber langsung dan mendapatkan pengakuan validitas datanya oleh Kantor Desa Kaumrejo yang waktu itu di kepalai oleh Bapak Lurah Gandi.


Related Post



3 komentar:

  1. Saya pernah tinggal di Ngantang tahun 1989-1991... Bagaimana kabar kondisi Ngantang pasca erupsi Kelud?... semoga warganya diberi kekuatan dan kesabaran untuk segera bangkit dan berbenah... Aamin YRA.

    BalasHapus
  2. 9 thn belum pulang ke ngantang menjenguk kakek tercinta...apa kabar ngantangku yang asri...salam rindu cucu dan cicit mu di negeri sebrang...we are love u (mbah/uyut Temu Prayitno)

    BalasHapus
  3. besok insyaallah saya kkl akan ke sana 18 Mei 2017 . mohon krjasamanya :)

    BalasHapus

Blogger Template by Clairvo