Sabtu, 02 Februari 2013

Alan Alay 2061 (part 4)

Oleh Wong Ngantang - Sabtu, Februari 02, 2013 | , 0 comments


Sabtu 29 Januari 2061 jam 01.12
Lewat tengah malam Alan masih belum beranjak tidur. Dia sibuk dengan laptopnya membaca semua profil teman – teman sekolahnya. Daftar itu seakan berusaha dihafal oleh Alan. Dari banyaknya jumlah teman Alan sempat melihat daftar calon ketua OSIS yang akan diadakan pemilihan pada hari Senin tanggal 31 Januari. Alan kemudian melihat profil salah satu calon ketua OSIS.

“Ardian Manunggal, dengan panggilan Ardi.” Alan menggumam, tetapi tangannya dengan cepat melihat semua profil dan riwayat yang memang terisi sangat lengkap. “Sayangnya aku harus berspekulasi untuk mempercayakan ini padamu, karena aku belum pernah mengenalmu. Tetapi dari banyak data dan informasi. Kamu memang satu – satunya orang yang cocok. Hmmm…tidak hanya untuk ketua OSIS, tetapi juga untuk...”

Tok Tok Tok
“Alan sudah lewat tengah malam, buruan tidur.” Kata Bunda Alan dari luar kamarnya.
“Aku tadi udah tidur siang, aku gak bakal telat datang kesekolah deh, Bunda gak usah khawatir.” Kata Alan.
“Tapi jangan seperti Ayahmu kalau begadang, sering lupa makan, ntar kamu masuk angin loh.” Kata Bunda Alan dengan membuka pintu kamar Alan. “Bunda bikinkan mie instan ya !?” Kata Bunda kemudian.
“Bunda apaan sih, aku ini bukan anak kecil lagi. Ntar aku bisa bikin sendiri.” Kata Alan.
“Yaudah, Bunda bikinkan Ayah aja, ntar kamu bikin aja sendiri.” Kata Bunda kemudian menutup pintu.
“Ehhh kalau gitu bikinin Alan sekalian deh, hehehehe…” Kata Alan menyusul Bundanya keluar rumah.
“Tapi janji setelah makan, kamu langsung tidur.” Kata Bunda memberikan persyaratan.

Minggu 6 Februari 2061 jam 19.12
Alan duduk di kursi ruang tamu rumah Achi sedang menunggu Achi yang sedang bedandan. Mereka berencana pergi ke bioskop berdua untuk menonton film horror yang sudah dinantikan Achi sejak dirilisnya sekuel pertamanya dua tahun lalu. Achi memang menyukai film horror dan sangat berbeda dengan June yang justru takut melihat film horror, oleh karena itu June tidak ikut Alan dan Achi ke bioskop. Sudah menjadi kebiasaan Achi jika Alan harus menunggunya sebelum keluar bersama meskipun Alan sudah hampir 30 menit menunggu.
“Tumben gak selama biasanya ?” Kata Alan setelah melihat Achi berdandan cantik bersiap untuk pergi.
“Hahahaha, udah buruan berangkat. Filmnya kan udah mau di putar.” Jawab Achi mengisyaratkan untuk segera keluar rumah.

Alan kemudian beranjak pergi dan menghidupkan motor elektrik yang di pinjam dari Ayahnya untuk pergi ke bioskop yang hanya berjarak kurang dari 2km dari rumah Achi. Sesampai di bioskop terlihat antrian penuh di loket. Karena Achi benar - benar tergila gila dengan film horror itu, Alan sudah mempersiapkan dari tadi pagi untuk membeli tiket nonton, jadi mereka tidak perlu antri ke loket dan bisa langsung antri di pintu masuk.
“Hey Chi, kamu suka film ini juga ya ?” Sapa seseorang tiba - tiba dari belakang mereka.
“Heeyy Sakti, kamu sama siapa ?” Achi bertanya balik.
“Sendiri aja, kalau tahu kamu suka film ini pasti aku ajak kamu.” Kata Sakti.
“Ahahaha, iya aku udah jauh hari nunggu film ini. Nih, malah Alay yang tahu duluan kalau film ini diputar sekarang. Aku tinggal nonton deh.” Sambung Achi.
“Oiya kamu di kursi nomor berapa ?” Tanya Sakti.
“Aku 12A, kamu ?” Tanya Achi balik.
“Wahh berarti Alay 13A dong.” Tebak Sakti.
“Iya kalau kamu mau kita bisa tukar kursi kok.” Kata Alan.
“Ahahahaha tukar buat apa, aku kan duduk di kursi 11A. Jadi Achi tepat berada diantara kita.” Kata Sakti.
“Waahh kebetulan nih, pasti nanti nontonnya makin seru.” Kata Achi.

Pemutaran film dimulai. Karena yang ditonton adalah film horror mereka terlihat begitu serius menonton. Hingga satu adegan menegangkan dalam film, Achi berteriak kencang karena takut dan terkejut.
“Astaga Achiiiii, bikin aku kaget aja.” Kata Sakti.
“Maaf, abisnya aku kaget banget sih.” Kata Achi.
“Achi kalau nonton horror emang sering gitu makanya aku gak kaget.” Sambung Alan.
Tiba – tiba Sakti berakting layaknya hantu.
“Hooooaaaaaahhh.” Sakti menakut nakuti Achi.
“Iihhh apaan sih.” Achi tergaget dan dengan reflek memukul hidung Sakti.
“Aauuuww sakit tahu.” Sakti kesakitan.
“Hahahahaha, makanya jangan bikin Achi kaget, kayak gitu deh jadinya.” Kata Alan.
“Upss Sakti sorry tadi reflek. Kamunya sih bikin aku kaget.” Kata Achi.
“Hmmm….” Sakti manyun dan melanjutkan menonton.

Pemutaran film selesai mereka keluar bioskop bersama. Karena ada Sakti, mereka pergi dulu ke sebuah café untuk sekedar mengobrol.
“Jadi kamu baca semua sekuel novel dari film tadi ? Makanya kamu hafal betul setiap tokohnya.” Kata Sakti pada Achi.
“Abisnya seru sih, serem serem gimana gitu, hahahaha.” Kata Achi sambil membayangkan adegan seram di film tadi.
“Wah gak nyangka cewek kayak kamu ternyata suka baca novel horror.” Kata Sakti.
“Achi itu gak cuma novel horror yang dia baca, bahkan buku cerita anak - anak bergambar juga dia baca.” Sambung Alan.
“Serius ? Wahahahahahahaha lucu juga kamu Chi. Padahal kamu adalah salah satu cewek paling diidolakan banyak cowok di sekolah ternyata…”
“Kenapa ketawain aku ? Memangnya gak boleh aku baca buku anak – anak ? Itukan suka - suka aku, lagian aku bacanya juga gak minjem mata kamu kan ?” Kata Achi langsung jutek.
“Haduuhh serius deh Chi, kalau kamu masang wajah jutek gitu kamu malah kelihatan lebih cantik.” Kata Sakti.
“Bodo amat.” Achi makin jutek.
“Oiya, acara Mr. Valentino dan Mrs. Valentina akan tetap diadakan ya ?” Tanya Alan pada Sakti.
“Iya, itu memang agenda tahunan SMK kita, kebetulan aku dan beberapa teman yang lain yang memegang keamanan saat voting. Maklumlah, kalau sudah kelas 12 kayak aku makin banyak tugas praktek yang harus diselesaikan.” Kata Sakti.
“Namanya juga SMK, sudah jelas berbeda dengan SMA.” Kata Alan.
“Tapi dalam acara itu aku yakin kalau Achi bisa terpilih jadi Mrs. Valentina.” Kata Sakti.
“Aku gak tertarik dengan acara begituan, seperti orang yang haus kepopuleran aja.” Sambung Achi.
“Gak gitu juga sih Chi, orang populer di sekolah juga bisa dijadiin maskot sekolah untuk menentukan arah kemajuan sekolah.” Jelas Sakti.
“Terus apa untungnya jadi yang paling populer ? Setiap gerak - geriknya selalu menjadi bahan gossip teman - teman sekolah. Kenapa juga SMK kita adain acara tahunan macam gitu. Heran deh.” Kata Achi dingin.
“Maksud Sakti gak gitu sih Chi, ini permisalan aja ya. Kamu menjadi Mrs. Valentina, terus kamu berprestasi di salah satu bidang mata pelajaran. Tentunya itu akan menjadi inspirasi buat teman - teman lainnya di sekolah.” Jelas Alan.
“Nah bener tuh kata Alay, kalau itu positif pasti akan berdampak positif untuk siswa lain, begitu juga dengan sebaliknya.” Tambah Sakti.
“Aku gak peduli apa penjelasan panjang lebar kalian, aku tetap gak suka dengan acara itu. Apalagi sampai terpilih jadi Mrs. Valentina eeeehhhhhh amit amit deh.” Kata Achi.
“Ya terserah kamu juga sih Chi, tapi aku akan milih kamu dalam acara itu. Kalau boleh tahu kamu akan milih siapa ?” Tanya Sakti.
“Rahasia dong, yang jelas aku gak akan milih kalian berdua, semuanya basi.”Jawab Achi sinis.
“Ahahahahaha berarti kamu juga ikut mendukung acara ini dong. Jual mahal amat jadi orang.” Kata Sakti menggoda Achi.
“Udah – udah, Sakti jangan mojokin Achi, ntar kamu di pukul lagi kayak di bioskop tadi.” Alan mencoba menengahi.
Tetapi…..
Bruukkkk
Terlambat sudah Alan memperingatkan Sakti karena kepalan tangan Achi sudah mendarat keras di dada Sakti. Meskipun demikian, Sakti memang satu – satunya kakak kelas yang bisa dekat dengan Achi sewaktu di SMP dahulu. Candaan seperti itu sudah sangat wajar jika Achi dan Sakti bertemu. 

Selasa 8 Februari 2061 jam 21.26

Rani, Achi dan June mengobrol conference video call untuk sekedar berbincang - bincang.
“Ran, aku heran deh sama kamu, selama tiga tahun Alay satu kelas sama kita (Achi dengan June) gak ada teman satu bangku Alay yang bisa sedekat itu dengannya, bahkan Alay sempat lupa nama teman satu bangkunya.” Kata Achi pada Rani.
“Iya, aku juga ngrasa gitu. Alay yang sangat tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya bisa berkomunikasi dengan baik dengan kamu, padahal teman sebangku Alay dulu paling lama betah cuma satu bulan duduk dengannya kemudian minta pindah tempat duduk ke wali kelas.” Tambah June menguatkan pernyataan Achi.
“Oh ya !? Bahkan aku gak merasa kalau Alan sedingin itu pada keadaan lingkungan sekitarnya. Justru aku menganggap Alan itu baik dan ramah serta peduli dengan aku jika aku kesulitan dalam pelajaran sekolah. Hmmm…di tambah lagi waktu dia menatap mataku.” Jawab Rani dengan mata berbinar - binar. 

“Kamu suka sama Alay ya?” Tanya June dan Achi bersamaan.

“Hmmm…gimana ya, bisa iya bisa enggak sih, tetapi aku tahu di hati Alan sekarang cuma ada teman terdekatnya, kamu (Achi), kamu (June) beserta kedua teman kecilnya, Siska dan Sesil. Aku tahu itu dari cara memandang Alan kepada kalian berempat, makanya aku gak berharap banyak dari Alan. Diantara kalian siapa yang suka sama Alan ? Kenapa diantara kalian gak ada yang jadi pacarnya sih ? Bukankah Alan adalah cowok yang sangat baik untuk kalian ?” Tanya Rani balik dengan polos.

“Rasanya kita gak perlu jawab pertanyaanmu deh Ran, udah ya aku mau tidur….” Jawab Achi berubah sikap menjadi dingin lalu menutup telepon.
“Cerita kita sangat panjang Ran. Kita tidak ada maksud untuk membatasi atau merahasiakan cerita kita, tetapi rasanya kamu emang gak perlu banyak tahu soal hubungan kita dengan Alay, OK…aku cabut juga yah, ngantug berat nih..dadah….” Jawab June lalu menutup telepon.

Setelah menutup video call dengan June dan Achi tentu saja Rani menjadi sangat penasaran dengan hubungan mereka dengan Alan. Dan fikiran itu terus berkembang dengan berbagai pertanyaan yang muncul dalam benaknya. 


“Apa Alan suka sama Achi ? Lalu bagaimana June ? Apa June yang suka dengan Alan, atau sebaliknya, lalu bagaimana Achi ? Sedangkan Siska dan Sesil juga terlihat sering mencari perhatian Alan ? Apa aku juga ada dalam hati Alan ? Mengapa Alan bisa meluluhkan hatiku ? Bahkan membuat terpesona gadis secantik Siska dan Sesil serta cewek sepopuler Achi ? Achi juga tidak pernah pacaran meskipun dia diidolakan banyak cowok ganteng. Dekat dengan cowok pun Achi tidak pernah. Bahkan kata June, Achi pernah dua kali menolak cowok ganteng dan populer, apa itu karena Alan ? Meskipun Alan membuat aku luluh, tapi menurutku dia kan gak cukup istimewa untuk dicintai Achi atau bahkan Siska dan Sesil ? 
Lalu Alan pilih siapa diantara kita ? ” Rani terus berfikir hingga tengah malam dan membuatnya tertidur dan bermimpi.
(Bayu Eswe) (Animator : Wahyu Uwah) - ngantang.com


Diskripsi keseluruhan isi novel

Tahun 2061 adalah tahun pertama ALAN, ACHI dan JUNE memasuki bangku SMK setelah mereka bersahabat selama 3 tahun di SMP dahulu. Alan adalah anak jenius yang menyukai teknologi canggih. Kehadiran SISKA, SESIL dan RANI membuat ACHI dan JUNE mengetahui masa kecil ALAN yang begitu menyedihkan hingga ALAN dipanggil ALAY oleh teman – temannya. Tanpa diketahui oleh kelima teman terdekatnya, ternyata kejeniusan ALAN mampu membuat rencana sangat panjang untuk menghapus kesedihan masa lalunya dan melindungi orang lain dengan cara tidak lazim layaknya seorang detektif. Konflik muncul karena ada rasa cemburu diantara mereka, sedangkan ALAN adalah satu – satunya cowok dalam band NEXT DAY yang mereka dirikan bersama. Apakah kejeniusan ALAN mampu menyelesaikan permasalahan cinta dengan kelima sahabat ceweknya menggunakan cara detektif yang sering dia gunakan ? Lalu ALAN pilih siapa diantara mereka ?

Related Post



0 komentar:

Blogger Template by Clairvo