Sabtu, 19 Januari 2013

Alan Alay 2061 (part 2)

Oleh Wong Ngantang - Sabtu, Januari 19, 2013 | , 0 comments

<<BACK

Selasa, 11 Januari 2061 jam 06.48
 “Alaaaayyyyy, jangan sampai kita terlambat kayak Achi kemaren loh, buruan doong” suara June dari halaman rumah Alan sambil duduk diatas Poligonnya. Seragam siswa di SMK Negeri 03 Ngantang baik cewek atau cowok adalah memakai celana panjang, jadi June dan teman cewek lainnya bisa bebas mengendarai sepeda. Tentu saja itu juga terpengaruh oleh kebutuhan masyarakat Ngantang di era sekarang.
Alan bergegas keluar rumah sambil sibuk merapikan dasi SMK nya yang masih belum bisa dikenakannya sendiri.

“Duuhhh gini aja gak bisa Lay Lay” sindir June. Lalu tanpa komando lagi tangan June langsung meraih dasi itu dan memakaikannya ke leher Alan, sambil tersenyum kemudian June menunjukkan jempolnya “Sip, pokoknya semua cewek sekolah baru ini akan pada nyantol ke kamu deh, termasuk cewek asing itu, hahahahaha…..”
“Hah..ngaco aja kamu, Aku gak se GR itu.” sahut Alan sambil menarik ikat rambut June yang memang sering diikat sedikit lebih tinggi di belakang kepala kemudian mengayuh pelahan BMX nya.
June memang mempunyai rambut yang panjang dan sering mengikatnya sedikit lebih tinggi daripada umumnya dengan alasan supaya tidak gerah. Tentu saja itu berhubungan dengan kebiasaan June yang aktif. Dengan kulit sedikit lebih gelap June masih terlihat sangat manis dengan bentuk bibir manjanya. Ditambah lagi June memiliki postur tubuh kurus dan tinggi yang mendukung untuk semua aktifitas outdoor yang digemarinya seperti bersepeda dan menggembala bebek peliharaannya.  

Sesampai di pintu gerbang sekolah terlihat pemandangan sangat aneh, Kenapa ? Ada apa ? Kok bisa Achi yang jutek kepada kedua cewek asing kemarin sekarang justru asyik mengobrol bertiga. Kejanggalan itu tidak sempat ditanyakan Alan karena sebelum sampai di pintu gerbang, bel tanda masuk sekolah sudah berbunyi.

Kelas 10 terdapat di lantai paling atas gedung tiga lantai itu, untungnya sekolah mem - fasilitasi dengan lift. Selama di dalam lift, Alan hanya diam tertunduk mendengarkan June, Achi dan kedua cewek asing itu mengobrol. Setelah melihat bigscreen LCD di lobby lantai tiga, pengumuman pembagian kelas 10 ditampilkan. Ternyata kata cewek asing itu benar, bahwa mereka semua menjadi teman satu kelas.

Begitu memasuki kelas, terlihat ada 36 orang teman sekelas Alan yang 7 di antaranya adalah cowok termasuk Alan. Masih seperti SMP dulu, Achi minta duduk satu bangku dengan June sementara Alan sendiri duduk di depannya sambil melihat kesibukan semua siswa memilih lokasi bangku favoritnya. Sedangkan 2 cewek asing itu duduk di sebelah Alan, atau lebih tepatnya, si pendek bersebelahan langsung dengan Alan terpisah spasi jalan kelas.

“Hey, aku Rani, boleh aku duduk satu bangku sama kamu ?” Sapa ramah tiba - tiba dari seorang cewek yang berpostur tubuh setinggi June yang memiliki wajah anggun dengan rambut lurus dan pendek dengan poni serta penampilannya terlihat rapi.
“Oh iya silahkan. Aku Alan.” sahut Alan tanpa berfikir.
“Panggil aja Alay.” sambung June. Alan kemudian senyum dan mengangguk saja mengiyakan perkataan June. Rani pun kemudian ikut tersenyum.

Pelajaran pertama dilaksanakan, Alan lumayan deg - deg kan waktu Pak Guru mendata satu - persatu nama murid baru dengan lokasi tempat duduknya untuk di tampilkan di nameboard LCD meja. Setelah nama Achika Mutia Humaira (Achi), Alan Silver Garuda (Alan), June Indah Saphira (June), Kirani Putri Kamiswara (Rani) tersebutkan tetapi nama 2 cewek asing belum tersebutkan juga. Setelah melewati abjad “P” giliran Sesilia Indrayana yang dipanggil Sesil pada si tinggi disebutkan, kemudian disususul si pendek dengan nama Siska Ayu Rikaloka dengan panggilan Siska.

“Katanya mereka dulu teman kecilmu, masak gak ingat ?” kata Achi cuek melihat reaksi Alan sewaktu nama kedua cewek itu disebutkan. “Mereka bersekolah disini juga karena orang tua Siska ada urusan proyek menjadikan NgantangTV menjadi TV Nasional dengan Mama, jadinya mereka pindah kesini. Kemarin mereka berdua datang kerumahku bersama kedua orang tua Siska. Sekarang mereka tinggal di Tulungrejo gak jauh dari rumahku.” Lanjut Achi.
“Jadi mereka saudara ? Teman kecil ?” Tanya Alan.
“Iya, mereka sepupu. Mending tanya langsung orangnya aja deh.” Ujar Achi ketus mengakhiri pembicaraan sambil menunjuk Papan Kaca LCD di depan kelas.

LCD touchscreen bangku Alan tiba - tiba berkedip dan terlihat tulisan “1 message from client 19” Sebelum membaca isi pesan Alan sempat mengurutkan nomor bangkunya, lalu menggumam “Jika aku nomor 6, Rani nomor 5, June dan Achi nomor 7 dan 8, kursi kosong nomor 13 dan 14 di bangku paling belakang deret berikutnya berarti adalaaahhh……… Oh my god..ini pesan dari Siska,” sambil membuka pesan Siska yang isinya adalah “Aku panggil Alay apa Alan nih ? Hahahahaha…Gimana udah ingat siapa aku ?” Setelah membaca itu Alan langsung menutup pesannya lalu konsentrasi ke pelajaran. 

Bel jam istirahat pertama berdering,
Alan, June dan Achi bergegas menuju kantin, tentunya di ikuti dengan teman baru, Rani. Rani adalah alumni SMP Negeri 08 Ngantang di Desa Pagersari. Rani tinggal di Desa Banturejo dan tidak mempunyai teman se – SMP yang meneruskan ke SMK ini. Itulah mengapa Rani harus bisa cepat bersahabat dengan teman barunya. Untuk alasan Rani mengenal Alan lebih dahulu dibanding yang lainnya, tentu saja karena Alan itu cowok dengan wajah imut dengan badan tegap serta memiliki rambut unik dengan model menyisirnya memutar kekiri sesuai arah pusaran kepalanya yang tepat berada di tengah bagian belakang atas kepalanya. Meskipun tinggi badan dan warna kulit Alan standard, tetapi wajah Alan memang kelihatan “gak neko neko” atau lebih cenderung di bilang culun. Lagipula jumlah cowok di kelas berjumlah ganjil, jadi salah satu dari mereka pasti akan duduk satu bangku dengan salah satu cewek.

Pesanan makanan belum datang Alan malah dengan serunya berselancar ke forum ngantang.com dengan X-Calliber nya. Belum juga selesai loading ke website, X-Calliber Alan yang berbunyi lalu ada tulisan “1 inbox from slide message. Sender ID 841863456”. Slide message adalah pengiriman data teks dengan melemparkan file di display kearah perangkat tujuan tanpa konfirmasi terlebih dahulu selama dalam jaringan wifi yang sama. Ada juga slide share yaitu pengiriman file selain tulisan hanya saja dibutuhkan waktu lebih lama.

“kok pesanku di kelas tadi gak dibales sih, kamu masih lupa sama aku ya ? siska ayu RIKAloka”
Setelah melihat nama RIKA diberi huruf besar.
“Ternyata…..” Alan langsung mengingat siapa mereka sambil menoleh ke kanan dan kekiri karena slide message tidak bisa dilakukan lebih dari 10 meter.

Melihat nama Rika serentak Alan teringat masa kecilnya sewaktu bermain, mandi, makan dan tidur bersama dua teman kecilnya sekaligus tetangga yang tinggal tepat di depan rumahnya di Sidodadi dahulu. Rika yang bertubuh gendut dan Indra yang tidak punya gigi, hingga Rika pernah di panggil teman TK – nya Gajah Hamil dan Indra di panggil Gigi Lampir. Dahulu sewaktu masih TK, Rika dan Indra pernah dibela Alan sewaktu di ejek teman - temannnya hingga Alan mendorong jatuh 3 anak yang mengejek Rika dan Indra. Setiap jam istirahat sekolah mereka selalu bertiga karena mereka tidak satu kelas, Alan kelas Nol Kecil B, Rika dan Indra kelas Nol Kecil A.

Kemudian waktu kenaikan kelas TK Nol Besar, Alan tidak pernah melihat Rika dan Indra lagi. Kata orang tua Alan waktu itu bahwa keluarga Rika pindah ke Jakarta dan Indra ikut orang tuanya lagi di Jakarta setelah hampir 3 tahun di Ngantang. Indra di titipkan di Ngantang karena orang tuanya sedang mengalami masalah pekerjaan serius hingga harus ke pengadilan dan sidang berulang kali. Papa Rika adalah kakak dari Mama Indra dan mereka adalah keturunan China.

Papa dan Mama Rika menjadi saling kenal hingga menikah karena dulu Papa Rika di kontrak NgantangTV untuk menjadi manajer penyiaran pertama di NgantangTV dan Mama Rika menjadi pembawa acara pertama di NgantangTV dalam program Makanan Sehat. Sementara Mama Indra menjadi direktur sebuah perusahaan advertising pertelevisian nasional di Jakarta warisan orang tuanya yang sebenarnya di wariskan ke Papa Rika. Tetapi Papa Rika lebih memilih bertahan bekerja di NgantangTV karena cintanya kepada Ngantang dan tentunya kepada istrinya yang asli penduduk Ngantang. Namun setelah perusahaan itu banyak mengalami masalah, Papa Rika kembali ke Jakarta untuk membantu Mama Indra di Jakarta.

“Mungkin nama Rika lebih bisa membuatmu teringat yah ?” Siska langsung menghampiri Alan diiringi dengan Sesil berada dibelakangnya. Kemudian Siska melanjutkan pembicaraannya “Ingat foto ini kan ?” sambil menunjukkan proyeksi 3D potret 3 bocah umur 5 tahun dengan frame berwarna emas dari Tablet nya.
“Jadi sudah tahu siapa mereka Lay ?” Tanya Achi kepada Alan sambil mencampurkan sambal di baksonya.
“Hehehehe..panjang ceritanya…” Jawab Alan pelan.
“Kayaknya aku pernah lihat foto itu deh Lay, tapi dimana ya…….. ?” June masih mengingat - ingat seperti pernah melihat foto yang ditunjukkan Siska.
“Siska dan Sesil ini teman kecilku hingga TK Nol Kecil, dulu aku mengenalnya dengan nama Rika, sedangkan Sesil aku mengenalnya dengan nama Indra.” Jelas Alan.
“Owww…aku inget, berarti foto itu yang ada di meja belajarmu kan Lay ? Kalau tidak salah frame fotonya juga sama.” June memastikan.
“Hahahaha iya bener.” tawa Alan pelan.
“Kok teman TK Nol Kecil aja ingat sih, aku aja ingat cuma beberapa teman.” Rani mencoba berkomentar.
“Ini kan juga cuma satu orang, cuma Alan. Ditambah lagi tanda lahir di leher kiri Alan, kayaknya cuma Alan yang punya tanda lahir dengan bentuk seperti pengkodean barang pabrik.” Jelas Siska.`
“Hahahahahahaha” semua tertawa sementara Rani sedikit mengintip karena penasaran.

“Oiya gimana kabar kalian ? Hmmm…..” Tanya Alan ke Sesil dan Siska lalu tidak melanjutkan perkataannya.
“Gak usah bingung, panggil Sesil ma Siska aja biar sama kayak yang lain, kita sejak masuk SD udah gak pernah di panggil nama yang kamu kenal dulu selain keluarga kita.” Sambung Sesil lalu meminum jus buahnya.
“Sebenarnya banyak banget yang pengen kita ceritain ke kamu Lan, dan tentunya ada banyak hal yang pengen kamu certain ke kita kan ? Kalo ada waktu lebih aja kita ngobrol.” lanjut Siska dengan mengaduk - aduk jus buahnya yang masih penuh di gelas.
“Waahh reunian nih,” seru June “perlu dirayain dong, ntar kita kasi judul REUNI SATU DEKADE SAHABAT YANG HILANG.” lanjut June penuh semangat dengan mulut yang masih terisi mie.

“Tuh kan kumat lebay-nya, heran deh kenapa juga mesti aku yang dipangil Alay padahal yang jauh lebih Alay itu kan kamu.“ potong Alan.
“Karena nama kamu Alan, Alan Alay…tuh kan pas banget di telinga…coba June Alay…gak enak di denger.” bela June sambil menjulurkan lidah mengejek ke Alan lalu melanjutkan makan mie nya.
“Berarti kamu Jubay, June Lebay.” bela Alan tak mau dikalahkan dengan melemparkan potongan kerupuk ke hidung June.
Semua tertawa melihat dua orang itu saling ejek kecuali Achi, yang sudah sangat hafal kebiasaan sehari - hari mereka.
“Gitu deh kalau mereka lagi kumat, aku bayangin hidupku paling sangat sepi kalo gak ada dua orang macem gini.” ucap Achi sambil muka memerah karena baksonya sangat pedas.

“Oiya Lan, katanya kamu udah gak tinggal di Sidodadi ya ?” Tanya Siska sambil mengaduk - aduk jus buahnya yang sudah berkurang.
“Iya. Aku sekarang tinggal di Banjarejo. Nih, tepat di depan rumahnya miss lebay yang tiap pagi selalu berkokok kayak ayam kampung memanggil aku ‘Alaaaayyy’ di depan rumah.” Melempar potongan kerupuk lagi di mangkok June lalu melanjutkan perkataanya. “Terus, kalian pindah ke Ngantang mulai kapan ?” Tanya Alan.
“Papa udah disini seminggu lalu untuk mendaftarkan sekolah kita dan mengurus semua surat pindah serta kontrak kerjanya. Tapi aku, Mama dan Sesil tiba Jumat pagi tanggal 7 Januari kemarin sampai di Ngantang. Kita berangkatnya tengah malam, biar gak panas dalam perjalanan.” Jawab Siska.

“Sis, gimana ntar sepulang sekolah kita ke rumah Alan aja ?” Tanya Sesil ke Siska setelah menghabiskan jus buahnya.
“Biar bisa lebih lama di rumahku mending hari Sabtu aja. Sekolah kan cuma setengah hari.” jelas Alan.
“Iya hari Sabtu aja rame - rame, biar bisa maen band bareng, hahahahahah….” potong June.
“Band ? Di rumahmu ada alat musiknya Lan ?” Tanya Siska.
“Iya, kalian gak suka ya ?” Tanya Alan minder.
“Justru aku malah seneng, aku sama Sesil dulu anggota orchestra anak - anak, biolanya aja aku bawa kesini.” Kata Siska.
“Tapi aku kurang berbakat gak seperti Siska.” Sesil merendah.
“Sesil suka gitu deh orangnya. Emang bener sih, Sesil cuma pemain cadangan di orchestra tapi Sesil ini pernah mengisi musik sebuah pentas teater dengan solo harmonica hingga membuat air mata semua penonton jatuh, Sesil menyukai alat musik tiup.” Lanjut Siska.

“Woowww…kalian hebat” Puji Rani sambil melongo terkagum melihat bakat dua anak dari ibukota yang satu meja dengannya sekarang“ Aku boleh ikut gak?” lanjut Rani pelan.
“Ya tentu saja sama kamu juga, gimana sih teman baruku satu ini.” Kata June pada Rani sambil merangkul bahunya.
“Tapi aku gak bisa main alat musik.” jawab Rani polos.
“Lugu amat sih jadi orang, tentu saja kita kesana juga gak sekedar maen band, tetapi juga untuk ngabisin isi kulkas rumah Alan.” jawab Achi tegas lalu minum air putih gelas ke duanya.
Semua tertawa mendengar jawaban tegas Achi.

“Ntar kamu pegang bass aja Ran.” ucap June menengahi.
“Kan aku udah bilang gak bisa main alat musik.” Kata Rani pelan mengingatkan June.
“BASS itu singkatan dari Bagian Angkat Sound System, hahahahahaha….” Jelas June memecah suasana dengan candaannya.
Semuanya tertawa semakin keras, Rani yang merasa sedang diajak bercanda teman barunya juga ikut tertawa. 

Kebersamaan mereka itu tidak luput dari pandangan cowok – cowok kakak kelas di sudut meja yang lain. Mungkin karena kecantikan Siska dan Sesil, atau mungkin juga karena rambut indah Achi yang membuatnya populer sewaktu di SMP dulu. SMK 03 Ngantang memang selalu di dominasi alumni SMP 01 Ngantang tempat Achi, June dan Alan dulu bersekolah. Achi memang memiliki postur tubuh dan warna kulit standard, tetapi wajah dingin yang sering ditunjukkannya ternyata justru membuat banyak cowok penasaran. Bukan tanpa alasan rasa penasaran para cowok yang mengidolakan Achi, karena sekali Achi tersenyum, para cowok pasti akan melihat seolah seorang malaikat sedang menyapanya.

Cowok – cowok yang sedang mengamati mereka bukan hanya dari kalangan teman baru saja, tetapi juga dari kakak kelas di SMP, namanya Victor, Rama dan David. Achi pernah menolak cinta Victor meskipun di SMP dulu Victor termasuk orang yang menjadi idola banyak cewek karena wajahnya terlihat paling ganteng diantara pemain basket yang lain. Tidak hanya itu, Victor juga memiliki tubuh yang atletis serta memiliki bakat bermain basket diatas rata – rata teman sebayanya. Karena kejadian waktu SMP dulu, Victor dan kedua teman dekatnya itu menatap dengan pandangan berbeda kepada Achi.


Jam 19.44
Masih seperti kemarin. Alan dengan wajah serius dengan jemari menari lihai di atas keyboard laptopnya. Namun hari ini Alan hanya mengaktifkan fanpage jejaring internal sekolah barunya dan chating dengan beberapa orang menggunakan sebuah aplikasi chatting. Meskipun teman chatingnya cewek semua, tetapi baik June atau Achi tidak ada dalam daftar chating yang aktif itu. Orolannya chatting Alan juga bukan hanya sekedar berbasa – basi. Ditambah lagi dengan raut wajah Alan yang hanya datar tanpa ekspresi.

Diantara chatting, Alan juga sedang mengamati profil beberapa teman sekolahnya. Dia melihat profil Siska dan Sesil untuk meyakinkan dirinya sendiri kepada keberadaan kedua teman kecilnya itu. Alan kemudian masuk ke Forum Kegiatan Sekolah yang menunjukkan berbagai macam informasi kegiatan intra dan ekstra sekolah baik yang akan dilaksanakan maupun yang sudah dilaksanakan. Alan terhenti di sebuah halaman setelah melihat salah satu kegiatan yang berjudul “Mr. Valentino dan Mrs. Valentina 2060”.

“Ini adalah acara paling konyol yang pernah ada. Apalagi jika melihat nama Victor sebagai best of the best acara ini.” Gumam Alan sambil tersenyum sinis.

Bersamaan dengan itu Alan mengambil X-Calliber dan menghubungi Achi dan June untuk diajaknya conference video call. Hanya beberapa kata saja yang Alan sampaikan ke mereka berdua.

“Apapun yang terjadi nanti, tolong jangan kasi komentar apapun tentang Victor” Kata Alan.
“Memangnya kamu mau ngapain Lay ?” Tanya June.
“Jadi tujuanmu mengajak conference call cuma buat ngomongin dia ? Males banget deh Lay, mending ngomongin yang lain aja.” Achi menjawab jutek.
“Bukan gitu maksudku Chi. Setelah ini aku janji gak akan sebut nama dia lagi deh.” Kata Alan.
“Terserah kamu lah.” Jawab Achi tanpa mengurangi wajah manyunnya.
“Iya iya aku ngerti kok, tapi ini untuk kebaikan kita semua.” Pinta Alan.
“Victor mau kamu apakan Lay ?” Tanya June lagi.
“Gak aku apa – apain kok, cuma memastikan aja kalau kalian memang udah males bahas soal Victor lagi.” Kata Alan.
“Sumpah deh Lay, itu gak penting banget. Udah tahu aku gak suka malah kamu yang bahas duluan.” Kata Achi lagi.
“Ya udah, aku harap kalian mau menyanggupi permintaanku tadi, tapi sekarang lihat ini.” Kata Alan lalu memberikan link fanpage sekolah tentang Mr.Valentino dan Mrs. Valentina.
“Apa hubungannya dengan kita ?” Tanya June setelah melihat link yang diberikan Alan.
“Masa bodo dah Lay, aku gak mau tahu.” Jawab Achi.
“Jadi intinya kalian cuma tidak boleh berkomentar apapun. Baik itu komentar yang jelek atau yang baik. OK ? Udah ya, Aku mau maen game online dulu. Dadah semua.” Jawab Alan langsung menutup conference video call. (Bayu Eswe) (Animator : Wahyu Uwah) - ngantang.com

Related Post



0 komentar:

Blogger Template by Clairvo